Diduga Dijadikan Kambing Hitam, Bocah 9 Tahun di Kupang Menangis dan Tak Mau Sekolah

 


NEWSNTT - Seorang bocah berusia 9 tahun berinisial YA, siswa kelas III SD Negeri Oehendak, Kecamatan Maulafa, Kota Kupang, diduga mengalami trauma psikologis setelah dituduh mencuri telepon genggam milik penjaga sekolah. Tuduhan tersebut disebut membuat YA tertekan, menangis ketakutan, bahkan menolak kembali ke sekolah.

“Aku malu ke sekolah,” kata YA lirih kepada ibunya.

Peristiwa ini diungkapkan langsung oleh Gaudensia Eko, ibu kandung YA, yang menceritakan kronologi kejadian kepada media. Ia menyebut, insiden bermula pada Senin, 2 Februari 2026, sekitar pukul 12.00 WITA, di lingkungan sekolah.

Menurut Gaudensia, saat itu sebuah ponsel milik penjaga sekolah diletakkan di atas meja. YA kemudian mengambil ponsel tersebut dan menyimpannya di dalam laci, sebelum kembali masuk ke kelas untuk melanjutkan pelajaran. Setelah itu, YA pulang seperti biasa dan tidak mengetahui ponsel tersebut hilang.

Namun situasi berubah drastis pada Rabu malam, ketika pihak sekolah menghubungi keluarga dan meminta orang tua YA menghadap ke sekolah keesokan harinya. Pemanggilan itu disebut langsung memicu kepanikan pada anak.

“Dia bangun malam sambil menangis. Dia bilang, Mama bukan saya curi, saya hanya ambil lalu taruh di laci,” ujar Gaudensia.

Keesokan harinya, Gaudensia datang bersama anaknya ke sekolah. Dalam pertemuan tersebut, pihak sekolah tetap menuding YA sebagai anak yang mengambil ponsel, dengan alasan ada saksi yang melihat.

Namun Gaudensia membantah bahwa tindakan anaknya bisa dikategorikan sebagai pencurian. Ia menegaskan, YA tidak membawa ponsel tersebut pulang, tidak memasukkannya ke tas, serta tidak menyembunyikan barang itu.

“Saya bilang anak saya ambil, tapi tidak bawa pulang. Kalau mencuri pasti disimpan atau dibawa,” katanya.

Meski demikian, pihak sekolah disebut tetap menyampaikan pernyataan bahwa hilangnya ponsel tidak akan terjadi apabila YA tidak mengambilnya. Pernyataan itu membuat keluarga merasa anak mereka diposisikan sebagai pihak yang harus bertanggung jawab penuh.

Gaudensia menilai tekanan tersebut berdampak serius terhadap kondisi mental anaknya. YA disebut terus menangis, ketakutan, dan enggan kembali ke sekolah karena malu serta merasa dipermalukan.

Kondisi keluarga yang serba kekurangan juga memperparah tekanan psikologis yang dialami. Dalam ketakutan menghadapi kemungkinan masalah hukum, Gaudensia mengaku sempat memukul anaknya sendiri di rumah karena takut YA berbohong dan khawatir persoalan ini akan berujung pada penahanan.

“Saya orang kecil, jual sayur sehari hanya dapat Rp5.000. Saya takut anak saya masuk penjara,” tuturnya sambil menangis.

Orang Tua Minta Polisi, Sekolah Tolak Demi Nama Baik

Gaudensia mengatakan dirinya sempat meminta agar persoalan ini dibawa ke pihak kepolisian untuk mengungkap fakta sebenarnya melalui pelacakan perangkat, pemeriksaan sidik jari, maupun data digital.

Namun permintaan tersebut ditolak pihak sekolah. Alasannya, kata Gaudensia, pihak sekolah ingin menjaga nama baik institusi pendidikan.

Penolakan itu membuat keluarga semakin merasa tidak mendapatkan ruang pembuktian yang adil. Gaudensia menilai jika kasus ini benar-benar dibuka secara profesional, maka akan terlihat siapa pihak yang sebenarnya bertanggung jawab atas hilangnya ponsel tersebut.

Hingga saat ini, YA disebut masih mengalami ketakutan dan belum berani kembali ke sekolah. Pihak keluarga berharap ada penyelesaian yang objektif dan tidak memperparah trauma anak, karena kasus ini menyangkut masa depan pendidikan serta psikologis seorang anak.

Tim Redaksi

Lebih baru Lebih lama